[Valid Atom 1.0] PIKIRANKU: PENJELASAN LENGKAP BENCANA TSUNAMI DAN BENCANA GEMPA
IKUTI KAMI DI SOSIAL MEDIA

Selasa, Oktober 09, 2018

PENJELASAN LENGKAP BENCANA TSUNAMI DAN BENCANA GEMPA




Oleh Adhy

PENJELASAN LENGKAP BENCANA TSUNAMI DAN BENCANA GEMPA
Setidaknya ada dua macam bencana alam yang tergolong sulit diprediksi kehadirannya, yaitu bencana tsunami dan bencana gempa terutama gempa bumi. Contohnya sebagaimana yang baru saja terjadi di Lombok di bulan Agustus 2018 kemarin, berupa gempa bumi yang terjadi hingga beberapa kali.  Setelah itu disusul dengan gempa bumi di Palu dan Donggala Sulawesi yang wujudnya berupa gempa bumi, kemudian berlanjut langsung dengan bencana tsunami. 

Penjelasan Tentang Bencana Tsunami
Antara bencana tsunami dan bencana gempa, keduanya mempunyai suatu keterikatan yang sangat erat. Bencana tsunami selalu muncul setelah terjadi bencana gempa. Tapi harus selalu dipahami, bahwa bencana gempa tidak selalu memunculkan bencana tsunami.
Tsunami adalah bencana yang muncul akibat dari terjadinya bencana gempa, letusan gunung berapi, tanah longsor dan peristiwa lain yang terjadi di kawasan samudera atau lautan. Wujud dari bencana ini berbentuk gelombang laut dengan ukuran yang sangat besar, sehingga sering menimbulkan banyak sekali dampak negatif pada kehidupan manusia, termasuk korban jiwa.
Tsunami sendiri merupakan gabungan dua kata dari bahasa Jepang. Tsu mengandung makna pelabuhan, sedangkan nami punya arti gelombang pasang. Pandangan yang berkaitan dengan gelombang pasang ini sering disebut-sebut oleh kalangan ahli.
Berikutnya momen gelombang pasang yang ukurannya sangat tinggi ini selalu dikonotasikan sebagai tsunami. Sehingga pada intinya, tsunami merupakan bencana alam berupa gelombang tinggi yang muncul karena adanya aktivitas seismik atau gempa. 
Proses Awal Terjadinya Bencana Tsunami
Seperti yang sudah diuraikan, ada kaitan kuat antara bencana tsunami dan bencana gempa dimana bencana gempa selalu muncul lebih dulu. Proses terjadinya bencana tsunami, selalu dimulai dengan adanya suatu gerakan vertikal di lempang bumi yang bentuknya berupa sesar atau patahan.
Patahan atau sesar ini menjadikan air di dasar laut turun atau sebaliknya naik secara tiba. Fase inilah yang dinamakan sebagai gempa bumi. Pada umumnya, bencana gempa bumi ini sering terjadi di kawasan subduksi.
Tidak lama setelah muncul bencana gempa bumi dan kondisi air dasar laut mengalami sebuah perubahan yang sangat cepat, akibat yang muncul adalah tidak adanya keseimbangan air yang ada di permukaan laut atau samudera. Situasi ini kemudian akan mengakibatkan dampak lain berupa gelombang besar yang bergerak kearah pantai dan peristiwa inilah yang lebih dikenal dengan sebutan tsunami.
Penjelasan Tentang Bencana Gempa Bumi
Bencana gempa bumi merupakan sebuah peristiwa munculan getaran pada permukaan bumi karena ada energi yang terlepas secara tiba-tiba. Energi tersebut muncul karena terdapat suatu tekanan yang sumbernya berasal dari kerak bumi atau lempeng bumi yang bergerak. Gerakan ini terus membesar hingga mencapai pada suatu kondisi dimana bagian pinggir lempeng tidak mampu menahan lagi. Ketika itulah bencana gempa bumi langsung terjadi.
Selain karena gerakan di lempeng bumi, gempa bumi juga sering muncuk karena ada geseran lempeng bumi yang saling menjauh. Pergeseran ini memunculkan lempeng baru dengan berat jenis yang lebih kecil dibanding lempeng bumi lama.
Selanjutnya, pemunculan lempeng baru tersebut selalu menimbulkan tekanan besar diantara kedua lempeng lama dan bisa memunculkan gerakan kearah bawah sekaligus lepasnya energi dalam ukuran yang tidak kalah besar. Tidak lama kemudian gerakan pada lempung langsung saling mendekat dan terjadilah gempa bumi.
Peristiwa bencana tsunami dan bencana gempa bumi biasanya seringkali terjadi di daerah perbatasan antara lempeng-lempeng tersebut. Namun selain itu, gempa bumi juga bisa terjadi karena terjadi gerakan magma yang ada di gunung berapi. Pada umumnya, bencana gempa ini sering dijadikan pertanda akan adanya bencana lain yaitu gunung berapi yang meletus.
Jenis-Jenis Bencana Gempa Bumi
Bencana alam berupa gempa bumi bisa dibedakan jadi beberapa jenis, berdasarkan penyebab, tingkat kedalaman dan getaran atau gelombang gempa. Penjelasan lengkapnya adalah sebagai berikut.
A. Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, bencana gempa bumi terdiri dari empat macam, yakni:
1. Gempa Tektonik
Selaras dengan namanya, gempa bumi tektonik diakibatkan adanya sebuah kegiatan tektonik, berupa geseran lempeng-lempeng tektonik yang terjadi secara tiba-tiba. Proses kejadiannya hampir mirip dengan gelang dari karet yang ditarik, kemudian dilepas secara mendadak.
2. Gempa Tumbukan
Gempa tumbukan merupakan gempa bumi yang terjadi karena adanya pemunculan tumbukan asteroid atau meteor yang jatuh di bumi. Selama ini gempa bumi jenis tersebut sangat jarang terjadi.
3. Gempa Runtuhan
Gempa bumi jenis ketika ini lebih sering terjadi di kawasan berkapur atau area pertambangan. Selain jarang terjadi, pada umunnya juga hanya bersifat kecil atau lokal saja.
4. Gempa Buatan
Berikutnya adalah gempa buatan, berupa bencana gempa bumi dan penyebab utamanya tidak lain bersumber dari kegiatan manusia. Misalnya ledakan nuklir, dinamit, dan sebagainya.
5. Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik sering terjadi karena adanya kegiatan magma, sebelum suatu gunung berapi meletus. Makin tinggi tingkat keaktifan gunung berapi tersebut, tingkatkan gempa yang dapat terjadi juga makin besar. Karena bersumber dari kegiatan magma gunung berapi, maka lokasi kejadiannya juga hanya lebih terasa di kawasan sekitar gunung berapi tersebut.
B. Berdasarkan Tingkat Kedalaman
Menurut tingkat kedalamannya, ada 3 jenis gempa bumi, yaitu:
1. Gempa Bumi Dalam
Gempa bumi dalam merupakan satu gempa bumi dengan tingkat kedalaman atau hiposentrum lebih dari 300 kilometer dalam kerak bumi atau di bawah permukaan bumi. Biasanya gempa ini meski sering terjadi, tapi sifatnya tidak begitu membahayakan. Selain itu kejadiannya juga jarang terasa oleh manusia.
2. Gempa Bumi Menengah
Jenis kedua dinamakan gempa bumi menengah, merupakan gempa bumi dengan hiposentrum antara 60 hingga 30 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa ini juga sering terjadi tetapi sifat kerusakan dan akibat yang ditimbulkan hanya bersifat ringan saja meski proses kejadian dari gempa tersebut dapat dirasakan.
3. Gempa Bumi Dangkal
Gempa bumi dangkal adalah sebuah gempa bumi dengan tingkat hiposentrum kurang dari 60 kilometer di bawah permukaan bumi. Dibandingkan tipe lainnya kerusakan yang ditimbulkan tergolong parah dan getarannya sangat mudah dirasakan oleh manusia.
C. Berdasarkan Getaran Atau Gelombang Gempa
Menurut besaran getaran atau gelombangnya, gempa bumi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu gempa gelombang primer dan gempa gelombang sekunder.
1. Gempa Gelombang Primer
Gempa gelombang primer juga sering disebut sebagai gempa gelombang lungituudinal, yaitu suatu gempa berupa getaran atau gelombang sana muncul di tubuh bumi. Kecepatan gerakan gempa ini bisa mencapai sekitar 7 hingga 14 kilometer per detik.
2. Gempa Gelombang Sekunder
Istilah lain dari gempa gelombang sekunder adalah gelombang transversal, berupa gelombang maupun getaran yang bergerak secara merambat. Tingkat kecepatannya hanya berkisar antara 4 hingga 7 kilometer saja  per detik sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang fatal. Selain itu gempa ini tidak bisa merambat ke air atau lapisan cair.
Bencana Gempa Bumi Yang Paling Sering Mengakibatkan Bencana Tsunami
Peristiwa bencana tsunami dan bencana gempa adalah bencana alam terbesar yang pernah memunculkan kepedihan mendalam bagi masyarakat Indonesia. Setelah bencana ini terjadi di Aceh pada akhir tahun 2004, kejadian yang nyaris sama juga dialami oleh warga yang tinggal di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada bulan Agustus 2018.
Ketika itu BMKG (Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika) sempat mengeluarkan pernyataan bahwa gempa bumi di Lombok tersebut, memiliki potensi mengakibatkan adanya bencana lain berupa tsunami. Akan tetapi, berselang sekitar 2 jam berikutnya, BMKG kembali menyatakan jika gempa dengan kekuatan 7 skala richter tersebut tidak menimbulkan tsunami.
Baca juga
Akan tetapi, sekitar dua bulan berikutnya pada akhir September 2018, terjadi bencana gempa bumi lagi di bumi Indonesia tepatnya di Palu dan Donggala, Provinsi Sulawesi Selatan. Beda dengan yang terjadi di Lombok, gempa bumi kali ini menimbulkan efek yang semakin parah karena disertai dengan bencana tsunami.
Kedua peristiwa ini pasti memunculkan pertanyaan di masyarakat, gempa bumi apa saja yang dapat memicu terjadinya bencana tsunami. Untuk menjawab pertanyaan ini, sebelumnya telah dijelaskan apabila tidak semua gempa bumi itu dapat menimbulkan akibat berupa tsunami.
Sebagian besar atau sekitar 90% yang sering menjadi penyebab utama dari bencana tsunami memang berasal dari gempa bumi. Hanya saja, bencana gempa bumi tersebut sering terjadi di bawah atau kedalaman laut.
Peristiwa gempa bumi yang terjadi di bawah laut ini bisa terjadi oleh karena akibat dari ada lempeng-lempeng teknonik yang saling bertubrukan. Setelah itu muncul gerakan di dasar laut yang kemudian memunculkan ketidakseimbangan di permukaannya.
Meski lebih sering terjadi di daerah lautan, bukan tidak mungkin gempa bumi yang berada di darat bisa memicu peristiwa tsunami. Terutama ketika terdapat patahan dari peristiwa gempa bumi yang terus memanjang kemudian masuk dalam lempengan yang ada di laut.
Gempa bumi yang paling acapkali memunculkan peristiwa tsunami ini biasanya adalah jenis gempa bumi dangkal, dengan tingkat kedalaman 0 sampai 30 kilometer di bawah permukaan laut. Adapun kekuatannya, selalu lebih dari 6,5 skala richter dan mempunyai sesar atau pola gerak naik dan turun.
Selain itu masih ada beberapa penyebab lain atas terjadinya peristiwa bencana tsunami dan benda gempa bumi. Salah satunya adalah letusan dari gunung berapi yang berada di bawah laut dan longsor tanah pada lokasi yang sama. Bahkan jatuhnya benda dari langit di bumi dan melesak ke dalam laut juga bisa menyebabkan tsunami apalagi jika ukurannya sangat besar.
Khusus untuk bencana tsunami yang diakibatkan oleh gempa teknonik, penyebabnya ada dua macam yaitu kegiatan sesar dan tabrakan antar lempeng. Kegiatan sesar sendiri sebenarnya merupakan dampak dari tabrakan antar lempeng, meski tidak secara langsung.
Sedangkan bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, merupakan gempa bumi dari jenis dangkal dan terjadi karena adanya kegiatan Sesar Naik Belakang Busur Lempeng Flores atau Flores Back Arc Thrust. Sementara itu untuk Palu dan Donggala, juga merupakan tipe gempa dangkal dengan tingkat kedalaman sekitar 10 km. Adapun sesarnya, adalah Sesar Palu Koro dan berasal dari jenis sesar mendatar.
Upaya Penyelamatan Dan Perlindungan Diri
Baik bencana tsunami dan bencana gempa, kehadiranya tidak dapat diprediksi secara pasti. Hingga saat ini belum dapat ditemukan teknologi yang mampu memperkirakan kapan kedua jenis bencana alam itu akan terjadi di suatu wilayah. Sifatnya sangat berbeda dengan bencana letusan gunung berapi yang selalu memunculkan tanda-tanda sebelumnya.
Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk selalu bersiap diri ketika bencana alam tersebut terjadi. Beberapa upaya dapat dilakukan agar risiko kecelakaan dan kerugian dapat dihindari, atau paling tidak diminimalkan. Terutama yang berhubungan erat dengan urusan keselamatan jiwa dan nyawa.
1. Saat Berada Dalam Kendaraan
Ketika terjadi gempa dan kebetulan masih berada dalam kendaraan, harus segera berhenti dan mencari tempat yang dirasa paling aman namun tetap berada dalam kendaraan. Ingat, jangan berhenti di area bawah gedung, pohon besar, jembatan, jalan layang dan instalasi kabel listrik karena justru bisa menimbulkan akibat fatal.
Tunggu hingga gempa berakhir, baru setelah itu boleh keluar dari kendaraan. Untuk langkah berikutnya, tetap berdiam diri ditempat serta mencari bantuan atau menunggu hingga bantuan datang. Jangan pergi ke area lain apalagi jika tidak tahu betul kondisinya.
2. Saat Berada Dalam Bangunan
Ketika sedang terjadi bencana gempa dan kebetulan sedang berada di ruangan atau bangunan, usahakan secepat mungking keluar dari bangunan atau ruang tersebut kemudian carilah lokasi di ruang terbuka atau lapangan. Namun apabila upaya keluar dari ruang atau bangunan terasa sulit dilakukan, langkah terbaik yang bisa ditempuh adalah selalu berpegangan terhadap suatu benda yang kukuh. Selain itu kepala harus selalu ditundukan agar tidak kejatuhan benda.
Langkah lain yang juga dianggap lebih aman adalah mencoba bersembunyi di bawah perabot seperti meja, dipan tempat tidur dan sebagainya. Benda-benda perabot ini dianggap lumayan aman dijadikan tempat perlindungan sementara.
Setelah gempa berakhir, segeralah keluar dari tempat perlindungan sementara tersebut sambil tetap melindungi kepala dengan kedua tangan. Khusus bagi mereka yang memiliki gangguan pernafasan, usahakan agar hidung selalu tertutup dengan kain atau pelindung lainnya.
Setelah kondisi dinyatakan aman oleh pihak atau lembaga yang berkompeten, pengecekan ke dalam rumah boleh dilakukan tapi harus disertai dengan penuh kehati-hatian. Sistem jaga diri harus tetap dijalankan misalnya dengan alat pelindung helm dan sebagainya. Selain itu harus diperhatikan pula, jangan nyalakan listrik untuk menghindari adanya bahaya konsetling atau kebakaran dan kecelakaan lainnya.
3. Saat Berada Di Luar Ruangan
Selanjutnya apabila bencana gempat terjadi ketika sedang berada di luar ruang atau bangunan khususnya yang tinggal di kawasan perkotaan, harus segera berlari ke tempat terbuka. Jangan mencari tempat perlindungan yang dekat bangunan, jembatan, jalan layang, pohon besar dan lainnya sebab hal ini justru bisa meningkatkan risiko kecelakaan
Berlindung dalam gedung sangat tidak dianjurkan karena apalagi berada di lantai paling atas. Hal ini justru jauh lebih berbahaya dibanding lantai paling bawah karena dapat memunculkan risiko gedung runtuh, kemudian ikut terjatuh dari ketinggian. Termasuk juga dalam basement atau lantai paling bawah, juta tidak disarankan karena ada kemungkinan dapat tertimbun oleh reruntuhan bangunan.
Demikian pula dengan tiang listrik dan sistem instalasi lain yang mengandung muatan listrik harus dijauhi. Area terbaik untuk melindungi diri dari risiko bencana tsunami dan bencana gempa adalah lapangan terbuka dan perbukitan.
Apalagi apabila sudah muncul pengumuman jika bencana gempa bumi yang baru saja terjadi bisa memicu bencana lain berupa tsunami. Bagi yang tinggal di kawasan perkotaan, mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan namun tetap harus waspada serta berjaga-jaga terhadap segala hal yang kemungkinan besar bisa terjadi.
Sedangkan bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir, secepatnya harus menjauhi daerah laut atau pantai dan memilih dataran tinggi yang jauh dari area tersbut sebagai tempat berlindung. Jangan mendekati pantai ketika air surut secara tiba-tiba. Hal ini merupakan sebuah pertanda apabila bencana tsunami akan segera datang setelah terjadi bencana gempa.
Tips terakhir, bagi masyarakat tempat tinggalnya dinyatakan sebagai kawasan dengan risiko tinggi terhadap bencana tsunami dan bencana gempa harus melakukan berbagai persiapan secara lebih dini. Misalnya menyiapkan lampu senter, tenda darurat, peralatan P3K, makanan siap saji dan sebagainya. Jika perlu ikut bergabung di asuransi perlindungan jiwa dan asuransi perlindungan harta.

Baca juga
Share artikel to: Facebook Google+ Linkedin Digg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERIKAN KOMENTAR YANG SOPAN DAN SESUAI ISI ARTIKEL YANG ADA,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...