Alasan Ilmiah Diet Cepat Jarang yang Bertahan Lama
Banyak diet menjanjikan penurunan berat badan cepat, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bertahan lama.

Banyak orang pernah merasakan euforia saat angka timbangan turun dengan cepat. Pakaian terasa lebih longgar, pujian mulai berdatangan, dan motivasi meningkat. Namun, beberapa bulan kemudian, perasaan itu sering berubah menjadi frustrasi saat berat badan perlahan kembali naik bahkan melebihi angka semula.
Situasi ini bukan pengalaman satu atau dua orang saja. Fenomena “diet berhasil sesaat lalu gagal” terjadi pada banyak orang yang mencoba berbagai metode penurunan berat badan, terutama diet ekstrem yang menjanjikan hasil cepat. Meski terlihat efektif di awal, pendekatan ini kerap meninggalkan kelelahan fisik dan kebingungan harus memulai dari mana lagi.
Laporan World Health Organization (WHO) serta berbagai jurnal nutrisi internasional menunjukkan bahwa kegagalan diet ekstrem bukan semata karena kurangnya disiplin, melainkan karena metode tersebut tidak sejalan dengan cara tubuh manusia bekerja secara alami.
Di tengah maraknya tren diet cepat yang viral di media sosial, muncul pertanyaan penting: apakah penurunan berat badan yang sehat memang harus selalu terasa menyiksa? Untuk menjawabnya, para ahli justru menyoroti pendekatan nutrisi seimbang dan berkelanjutan sebagai strategi yang lebih realistis dan aman dalam jangka panjang.
1. Pola Makan Seimbang Direkomendasikan WHO dan Ahli Nutrisi
Banyak metode diet populer dimulai dengan pembatasan ketat. Namun, pendekatan ini justru sering menimbulkan masalah baru. WHO dalam pedoman gizi seimbang menegaskan bahwa diet ekstrem berisiko mengganggu metabolisme dan meningkatkan peluang kenaikan berat badan kembali.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition, yang menunjukkan bahwa pembatasan kalori berlebihan dapat memicu adaptasi metabolik. Akibatnya, tubuh membakar energi lebih lambat dan menjadi lebih sulit menurunkan berat badan.
Karena itu, ahli nutrisi merekomendasikan pola makan seimbang yang tetap mencakup karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat. Pendekatan ini dinilai lebih stabil secara metabolik dan lebih mudah diterapkan dalam jangka panjang.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition, yang menunjukkan bahwa pembatasan kalori berlebihan dapat memicu adaptasi metabolik. Akibatnya, tubuh membakar energi lebih lambat dan menjadi lebih sulit menurunkan berat badan.
Karena itu, ahli nutrisi merekomendasikan pola makan seimbang yang tetap mencakup karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat. Pendekatan ini dinilai lebih stabil secara metabolik dan lebih mudah diterapkan dalam jangka panjang.
Dalam praktik sehari-hari, keberhasilan pola makan seimbang sangat dipengaruhi oleh pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Beberapa jenis makanan bahkan tanpa disadari justru dapat memicu rasa lapar berlebih dan mengganggu keseimbangan nutrisi. Penjelasan lebih lengkap mengenai hal ini dapat dibaca dalam artikel makanan sehari-hari yang tanpa sadar membuat berat badan naik.
2. Asupan Protein Didukung Riset dalam Jurnal Nutrisi Klinis
Setelah memahami pentingnya keseimbangan nutrisi, perhatian kemudian tertuju pada peran protein dalam pengendalian berat badan. Sejumlah studi dalam *The Journal of Nutrition* menunjukkan bahwa protein berkontribusi besar terhadap rasa kenyang.Asupan protein yang cukup membantu mengurangi keinginan makan berlebihan, terutama di antara waktu makan utama. Selain itu, penelitian lain dalam The American Journal of Clinical Nutrition mengungkap fakta bahwa protein berperan penting dalam mempertahankan massa otot selama penurunan berat badan.
Dengan massa otot yang terjaga, tubuh tetap mampu membakar energi secara efisien, sehingga proses penurunan berat badan menjadi lebih berkelanjutan.
3. Karbohidrat Kompleks Lebih Dianjurkan daripada Eliminasi Total
Meski protein sering menjadi fokus utama, karbohidrat tidak seharusnya langsung disingkirkan. WHO dan para ahli nutrisi mengaku bahwa masalah utama bukan terletak pada karbohidrat itu sendiri, melainkan pada jenis dan kualitasnya.Penelitian dalam The Lancet Public Health menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat kompleks berkaitan dengan kontrol gula darah yang lebih stabil. Karbohidrat utuh yang kaya serat membantu menjaga energi tetap konsisten dan mengurangi risiko makan berlebihan.
Dengan kata lain, pemilihan karbohidrat yang tepat justru mendukung keberhasilan pola makan seimbang.
4. Lemak Sehat Didukung Bukti Ilmiah Endokrinologi Nutrisi
Selain karbohidrat, lemak juga sering dianggap sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Penelitian dalam Nutrition Reviews menunjukkan bahwa lemak sehat berperan penting dalam regulasi hormon yang mengontrol rasa lapar dan kenyang.
Diet yang terlalu rendah lemak justru berpotensi meningkatkan keinginan makan berlebih. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar kita mengkonsumsi lemak sehat dari sumber alami sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Pendekatan ini membantu menciptakan rasa puas setelah makan, sehingga lebih mudah mengontrol porsi secara alami.
5. Konsistensi Diakui sebagai Faktor Penentu oleh Penelitian Jangka Panjang
Meski komposisi nutrisi penting, penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh konsistensi. Studi yang dimuat dalam Obesity Reviews menemukan bahwa kepatuhan terhadap pola makan memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan jenis diet tertentu.
Diet yang terlalu ketat sering kali gagal karena sulit dijalani dalam rutinitas sehari-hari. Sebaliknya, pendekatan yang fleksibel memungkinkan seseorang tetap konsisten tanpa tekanan berlebihan.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak diet populer menunjukkan hasil awal yang cepat, tetapi sulit dipertahankan.
6. Pola Makan Berkelanjutan Dinilai Lebih Aman oleh Pakar Kesehatan Globa
Konsistensi yang baik umumnya muncul dari pola makan yang berkelanjutan. WHO dan lembaga kesehatan masyarakat menegaskan bahwa diet ekstrem punya risiko menyebabkan kekurangan nutrisi penting.
Sebaliknya, pola makan berkelanjutan mendukung kesehatan metabolik dan menurunkan risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2 dan gangguan kardiovaskular. Penurunan berat badan pun terjadi secara bertahap, namun lebih stabil.
Pendekatan ini menempatkan kesehatan jangka panjang sebagai prioritas, bukan sekadar hasil cepat.
7. Perubahan Kebiasaan Kecil Didukung Bukti Ilmiah
Pada akhirnya, penurunan berat badan yang berhasil sering kali berawal dari perubahan kecil. Riset dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan sederhana namun konsisten lebih efektif dibandingkan perubahan yang secara drastis.
Alih-alih mengubah pola makan secara ekstrem, para ahli menyarankan fokus pada kebiasaan sehari-hari, seperti pilihan makanan dan pola makan yang lebih teratur. Pendekatan ini menurut mereka lebih realistis dan mudah disesuaikan dengan berbagai gaya hidup.
Bagaimana Ahli Gizi Menilai Tren Diet yang Banyak Beredar?
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai tren diet menyebar dengan cepat melalui media sosial dan platform digital. Mulai dari diet rendah karbohidrat ekstrem, puasa berkepanjangan, hingga pola makan satu jenis makanan, semuanya sering diklaim efektif menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Namun, ahli gizi menilai bahwa efektivitas jangka pendek tidak selalu sejalan dengan keamanan dan keberlanjutan.
Berdasarkan kajian nutrisi yang dirangkum dalam berbagai jurnal kesehatan masyarakat, pendekatan diet ekstrem cenderung sulit dipertahankan dan berisiko menimbulkan ketidakseimbangan asupan gizi. WHO juga menekankan bahwa perubahan pola makan seharusnya mempertimbangkan kebutuhan nutrisi harian serta kondisi individu, bukan sekadar mengikuti tren.
Ahli gizi klinis menilai bahwa keberhasilan penurunan berat badan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan seseorang mempertahankan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pola makan yang fleksibel, realistis, dan seimbang dinilai memberikan hasil yang lebih stabil dibandingkan metode yang terlalu membatasi pilihan makanan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, temuan WHO dan berbagai jurnal nutrisi memperlihatkan satu benang merah yang konsisten: penurunan berat badan yang berhasil bukanlah hasil dari diet ekstrem, melainkan dari pola makan yang bisa dipertahankan dalam kehidupan nyata.
Tubuh manusia tidak dirancang untuk terus-menerus berada dalam kondisi pembatasan. Keseimbangan nutrisi, pilihan makanan yang tepat, serta kebiasaan yang dijalani secara konsisten justru memberikan hasil yang lebih stabil dan aman bagi kesehatan jangka panjang.
Alih-alih bertanya diet apa yang paling cepat menurunkan berat badan, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah: pola makan seperti apa yang masih bisa dijalani enam bulan atau satu tahun ke depan tanpa tekanan berlebihan? Dari situlah perubahan yang sesungguhnya biasanya dimulai.
Artikel ini disusun berdasarkan rangkuman riset nutrisi internasional dan fenomena diet yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Tags:
KESEHATAN