.post-header-date{ font-size:14px; color:#777; margin-bottom:6px; }

Kenapa Investor Pemula Sering Panik Saat Harga Saham Turun

Harga saham yang turun secara tiba-tiba menjadi momen paling tidak mengenakan karena muncul rasa tegang bagi seorang investor pemula.

Panik di pasar saham
Harga saham yang turun secara tiba-tiba menjadi momen paling tidak mengenakan karena muncul rasa tegang bagi seorang investor pemula.

Kendati penurunan itu cuma beberapa poin saja sudah bisa menyebar hawa kepanikan yang luar biasa.
 
Kepanikan ini sering bermula dari kesalahan dasar yang tanpa sadar dilakukan sejak awal investasi.  Hal ini sudah saya bahas dalam artikel lain kesalahan yang sering dilakukan investor pemula saat mulai investasi saham.
 
Reaksi ini bukan semata karena ada bayangan kerugian di pelupuk mata tapi  bentuk respon otak manusia atas ketidakpastian.

Kepanikan itu muncul ketika seorang tidak siap mentalnya untuk bertahan dengan gejolak harga di pasar saham.

Ini merupakan sebuah kesalahan mental seorang investor pemula yang membuat  ia sulit untung dalam investasi jangka panjang

Ketakutan kehilangan yang natural

Secara psikologis, manusia manapun selalu  sensitif terhadap kerugian di banding keuntungan.
 
Jujur kita akui, rasa takut kehilangan keuangan terasa lebih  kuat daripada rasa senang saat kita meraup keuntungan.

Inilah musababnya, harga saham yang menurun akan mengganggu mentalitas seorang investor yang baru saja memulai perjalanan investasinya.

Kurangnya pengalaman menghadapi volatlitas

Investor yang sudah kenyang akan pengalaman tahu persis bahwa harga saham yang turun merupakan bagian dari siklus pasar.
 
Berbeda dengan investor pemula yang miskin pengalaman sama sekali. Penurunan harga saham dianggapnya merupakan alarm tanda bahaya besar mengancam.
 
Tanpa pengalaman, imajinasi mereka sering bekerja lebih proaktif daripada logika dan akal sehat. Akibatnya hal ini melebar dan berpengaruh pada sikap mental mereka yang menjadi posesif.

Harga saham sama dengan nilai diri

Mayoritas investor pemula tanpa mereka sadari suka mengaitkan pergerakan saham dengan kemampuan diri mereka.
 
Saat harga saham turun, mereka beranggapan telah membuat keputusan teramat bodoh. Perasaan seperti itu justru berimbas juga pada tekanan emosional panik berlebihan dan akhirnya membuat keputusan  secara tergesa-gesa.

Cara mengurangi kepanikan

Mempunyai rencana investasi sebelum hendak membeli saham adalah langkah penting yang bisa mengurangi rasa panik.
 
Rencana itu akan membantu  investor mengingat alasan awal membeli sebuah saham dan bukan sebaliknya bereaksi terhadap situasi sesaat.
 
Cara lain, batasi frekuensi mengecek harga saham juga akan sangat membantu dan bisa menenteramkan hati.

Inilah bagian dari manajemen emosi sebagaimana sudah juga saya urai secara jelas dalam artikel yang lain, mengapa manajemen emosi lebih penting dari analisis saham.

Menjadikan penurunan harga sebagai proses belajar

Alih-alih kita memberi stempel ancaman, penurunan harga saham sebetulnya menjadi momen untuk belajar.

Kita dapat melakukan evaluasi lebih teliti, sebab musabab penurunan harga itu apakah sementara saja atau karena alasan fundamental perusahaan.
 
Dengan sudut pandang  yang tepat seperti ini, kepanikan secara berangsur dapat kita ubah menjadi pemahaman.
 
Kepanikan ini jika kita berhasil tangani dengan baik, maka salah satu sumber penyebab kerugian seorang investor sudah bisa dihindari.  Soal ini sudah saya urai secara detail dalam artikel sebeumnya, kenapa banyak investor pemula rugi diawal. 
sofyanto
sofyanto
Sofyanto adalah peneliti independen yang aktif menulis topik keuangan pribadi, ekonomi dan bisnis, pertanian, pendidikan, kesehatan, teknologi serta hukum. Tulisannya berangkat dari pengamatan terhadap pola keuangan sehari-hari, literasi publik, serta pengalaman membaca dan merangkum berbagai sumber tepercaya.
Link copied to clipboard.
×